Tidak pernah sedetikpun saya memandang rendah orang-orang yang berniat mengabdikan dirinya kepada Tuhan. Mereka yang mendarmakan waktu untuk melayani, mengambil beberapa tahun sekolah Theologia, dan melakukan segala sesuatu untuk membela imannya. Tidak pernah sekalipun! Bahkan sebaliknya. Mereka adalah orang yang mengagumkan. Rela dengan sepenuh hati untuk melayani dan mempelajari tentang eksistensi Tuhan. Di semester ini, ketika saya bergulat dengan tiga mata kuliah Theologia dan menjadi salah satu dari mahasiswa Theologia, saya sadar bahwa pengabdian dan ketaatan adalah hal yang sangat penting. Pengalaman bertahun-tahun dalam pendidikan reguler dan bertemu dengan bermacam-macam orang, membuat saya menjadi seorang yang sangat terbuka. Saya sering bertemu dan berteman dengan orang-orang yang bertentangan dengan fenomena alkitab. Free sex, homoseksual, lesbian, rokok, tatto, tindik, bolos ku...
August, 23 2014 No one on the bus. I walked between the aisle and sit in the front side. Is that real? I start my adventure today. Actually, this is beyond my expectation that I have my own trip. The trip just with myself. This decision I’ve made in early August when I almost finished my internship program. Yeah, since I have to work within four walls and have to faced computer every 5 days a week, my heart is always calling for my activities and for a new adventure. My aunt asked me to visit her in Gresik. Then I think that this is the best choice to have holiday before the class is started. But I won’t to spend the leftover holiday just visit my aunt, so I told friend of mine, Bayduri, that I want to visit her today. And here I am, in Magelang bus station, waiting for the bus drive me to my adventure. Then I have the day is going well. Bayduri picked me up and we spent this noon sharing each other. Long time I’m not see her. When she spent her holiday in Salatiga, she ...
Aku marah dengan adikku karena dia mencuri Hp mama yang disimpan di dalam tas. Aku sampai kehabisan kata-kata dengan ulahnya yang sering membuatku marah dan kecewa. “Aku jengkel.” Begitulah alasan yang dia katakan ketika ketahuan mencuri. Aku tidak tahu lagi harus marah seperti apa. Seharusnya dia sudah bisa berpikir dewasa karena usianya 14 tahun dan dia juga memiliki adik. Tetapi dia tetap manja dan semakin keras sifatnya. Selalu sulit dinasehati dan selalu ribut dengan adiknya. “Aku tidak pernah membesarkan pencuri, tidak pernah punya adik pencuri!” kataku sambil masuk ke kamarku. Dalam hati aku menangis, mengapa adikku seperti itu? Apa selama ini aku kurang memperhatikannya yang sedang dalam masa pertumbuhan? Aku keluar dari kamarku dan menuju ke kamar mandi, dan aku melihat adikku sedang menangis. Baguslah kalau dia merasa bersalah, pikirku. Aku tidak ingin marah-marah karena itu hanya akan membuatnya benci kepadaku. Lebih baik aku marah karena mengasihinya dan membuatnya...
Komentar
Posting Komentar