Tidak pernah sedetikpun saya memandang rendah orang-orang yang berniat mengabdikan dirinya kepada Tuhan. Mereka yang mendarmakan waktu untuk melayani, mengambil beberapa tahun sekolah Theologia, dan melakukan segala sesuatu untuk membela imannya. Tidak pernah sekalipun! Bahkan sebaliknya. Mereka adalah orang yang mengagumkan. Rela dengan sepenuh hati untuk melayani dan mempelajari tentang eksistensi Tuhan. Di semester ini, ketika saya bergulat dengan tiga mata kuliah Theologia dan menjadi salah satu dari mahasiswa Theologia, saya sadar bahwa pengabdian dan ketaatan adalah hal yang sangat penting. Pengalaman bertahun-tahun dalam pendidikan reguler dan bertemu dengan bermacam-macam orang, membuat saya menjadi seorang yang sangat terbuka. Saya sering bertemu dan berteman dengan orang-orang yang bertentangan dengan fenomena alkitab. Free sex, homoseksual, lesbian, rokok, tatto, tindik, bolos ku...
Saya masih ingat empat bulan yang lalu, Nela pertama kalinya memulai perjalanan yang sangat panjang. Kami ada pelayanan keliling Sulawesi Tengah. Dari perjalanan inilah, saya tahu kalau Nela anak yang kuat. Dia hanya mudah menjadi bosan dan selalu ingin melihat-lihat. Perjalanan pertama kami dimulai dari Bitung. Kami naik kapal ‘Sinabung’, yang bertingkat tujuh dan bisa mengangkut ribuan orang, ke pulau Banggai. Suatu pulau kecil yang sangat indah. Di sana kami mengunjungi teman kami. Perjalanan satu malam satu hari itu cukup menarik karena ini pengalaman pertama kami melakukan perjalanan lewat laut. Melihat orang-orang yang berjubel di koridor-koridor atau gang-gang di dek kapal, menggelar tikar, menggantung kain untuk bayi, tidur tanpa menghiraukan gangguan bahkan menjemur handuk. Dek itu pengap dan panas. Di bawah matras banyak hewan-hewan kecil dan anak kecoa. Air dari kamar mandi meluap ke bawah matras sehingga sela-sela jalan menjadi becek dan bau. Nggak hanya itu, setiap a...
Saat kau memutuskan untuk menjalani hubungan itu lagi, itu kan artinya kau siap dengan segala resiko. Sehingga kau tidak berhak untuk menuntut orang itu atas perasaan sakit hatimu yang ditimbulkannya. Begitulah kata-kata yang sebenarnya ingin kuucapkan kepada temanku. Kata-kata yang akhirnya kutelan kembali karena kupikir dia pasti tidak ingin mendengarkan nasehat lain selain rasa empati terhadap perasaan sedihnya sekarang. Hati yang terluka. Perbuatan yang tidak memanusiakan. Dan rasa sayang semu yang menutupi maksud hati yang sebenarnya. Seperti Delila yang mencintai Samson karena ingin mencari tahu kelemahan tubuhnya yang tidak terkalahkan itu. Dalam jarak ratusan kilometer ini, aku mendengarkan cerita yang hampir sama yang sering kudengar sejak 4 tahun terakhir. Aku mendengar tangis yang sama. Kejadian yang sama. Serta kata-kata yang sama kuucapkan untuk menanggapi cerita itu, dia memang tidak punya hati, tidak punya sesuatu hal untuk dibanggakan bahkan sifatnya pun t...
Komentar
Posting Komentar