Maaf

Hari ini mood’ku benar-benar hilang. Aku menjadi seperti orang ling lung. Pikiranku kosong dan aku malas berpikir. Pekerjaan pun kulakukan tanpa semangat. Sepertinya aku terpukul. Baru saja seorang penumpang travel memakiku, nada bicaranya tidak kasar ataupun meninggi, namun aku merasa bahwa kata-katanya telah merasukiku.
“Mbak, saya mau tau siapa sopir yang ke Jakarta tadi malam.” Dia bertanya untuk yang kedua kalinya dalam sehari ini.
“Maaf pak saya tidak tahu, tadi sudah saya tanyakan juga.” Aku mulai gentar mendengar paksaannya.
“Ya ga bisa githu dong, saya ga mau tau, pokoknya mbak harus tau.” Orang ini sepertinya gila, pikirku. Jadi  aku meminta orang itu untuk menunggu, dan  bertanya kepada mas Agung, kurir travel ini.
“Bapaknya ini ngeyel kok,” kataku setelah bertanya kepada mas Agung. Lalu aku mengangkat telepon “Sopirnya Sony pak.”
“Kamu kok mengatai saya ngeyel tho? Saya kan Cuma bertanya..”
“Bukan Pak….”
“Saya Cuma bertanya. Setan kamu.” Tut..tut..tut.
Aku tidak terbiasa dimaki, rasanya seperti dimusuhi oleh semua orang. Aku bingung pada saat itu. Aku takut kalau dia mengadu kepada sopir, terus sopir itu bilang kepada tante yang punya travel dan habislah aku dimaki-maki dengan kata-kata yang lebih kejam.
Aku semakin ingin menangis ketika tante malah memarahiku gara-gara aku menerima paket ke Mojokerto (padalah aku hanya menulis alamat paket di selembar kertas). Dia ingin kalau setiap ada yang mau kirim paket harus bilang dia dulu, karena banyak orang yang tidak jujur kalau kirim paket, bilangnya cuma 3 kg tapi ternyata puluhan kilo.
“Aku tu cari orang yang jujur, bisa diajak kerja sama, bukan orang yang suka sembunyi-sembunyi…” dan banyak sekali kata-katanya yang tidak kudengarkan. Aku sakit hati. Hanya masalah sepele bisa membuatnya begitu marah. Mungkin aku memang salah dimatanya. Tapi apa dia tidak menyadari kalau aku adalah pegawai baru?
Sisa hari itu benar-benar menyiksaku. Waktu seperti berjalan lambat dan detik seperti tidak berdetak. Kata makian dari si bapak dan kalimat kemarahan dari si tante sangat menggangguku. Keadaan ini jugalah yang mendorongku  untuk minta maaf kepada si bapak melalui sms. Apapun yang terjadi atau cercaan makian akan kuterima, yang penting aku sudah minta maaf.
18.05
Bercanda dengan teman-teman gerejaku membuatku sedikit ceria, setidaknya ada pengalih pikiran. Tiba-tiba handphoneku berbunyi dan nomer tidak dikenal memanggil. “Mbak tad isms saya ya? Saya tadi tidak lihat hp mbak jadi ga tau, Tidak apa-apa mbak saya maklum, jadi santai saja ya mbak, ga usah galau.” Aku tertawa keras setelah telepon ditutup. Ternyata si bapak memang ababil gila. Tapi hatiku lega. 4 huruf yang bermakna dan memberi sedikit perubahan, seperti suasana hatiku yang membaik. Selain itu  efeknya bisa membuat orang gila semakin gila (red. Si bapak).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menurut saya....

The 8th

Temanku