Sentani, 18-21 Januari 2016


Saya mengubur kaki-kaki saya dengan pasir putih yang terhampar di pantai ini. Pantai ini terletak di pulau yang terpisah dari Papua. Beberapa kilometer dari Sentani. Pondok-pondok bambu yang kokoh di bangun untuk para pelancong, namun karena ini bukan akhir pekan, hanya rombongan kami saja yang meramaikan pantai ini.
        Saya masih tidak bisa percaya bahwa akhirnya saya menginjak tanah Papua. Berkunjung ke sekolah Papua Harapan, bertemu dengan pemimpin organisasi, jalan-jalan di sekitar kota Sentani, bercakap-cakap dengan keluarga Yoon yang telah mengundang kami dan berlibur di pantai terindah yang pernah saya lihat ini.
        This is like a puzzle I have been looking for. Bagaimana Dia menempatkan saya untuk menempuh jalan ini. Saya yang harus belajar bahasa Inggris dan Linguistic di Universitas, bertemu dengan organisasi misionaris dan akhirnya sampai di sini. Saya merasa di tuntun dengan perlahan namun pasti. Pada awalnya memang sulit untuk mengerti jalan ini. Saya ingin memiliki kehidupan yang normal seperti orang-orang lain. Lulus kuliah, bekerja, menikah, punya anak-anak, semakin tua dan mati. Tetapi tidak sesederhana itu kalau hati berkata lain. Ada keinginan yang kuat untuk melakukan sesuatu yang lebih untuk membuat hidupmu lebih berarti.
        Keinginan ini bukan karena saya bertemu dengan misionaris-misionaris itu. Tetapi memang sejak dulu sudah ada di dalam hati. Teman SMA saya mengingatkan saya bahwa saya pernah mengatakan kalau saya ingin menjadi misionaris. Saya benar-benar lupa kalau saya pernah mengatakan hal ini. Tetapi dia meyakinkan saya kalau saya memang berkata seperti itu.
        Saya menoleh kepada Peter yang sedang membakar ayam dan Elaine yang sedang menyiapkan alat untuk snorkling. Mereka adalah orang-orang yang selalu mendukung saya untuk meyakini panggilan saya. Selama satu setengah tahun kami berteman, mereka selalu memberi motivasi kepada saya untuk memilih Tuhan dan melupakan apa yang di belakang. Memang saya sekarang sudah memilih, sehingga akhirnya saya sampai di tempat ini untuk berkunjung selama seminggu.

        Saya tahu bahwa ini adalah awal dari segala keputusan saya. Keputusan yang membuat saya akan ditentang oleh keluarga saya. Tetapi memang semua butuh waktu dan proses yang tidak mudah. Yang saya yakini sekarang adalah saya telah mantap untuk mengabdikan hidup saya untuk orang lain juga. Hidup yang telah dianugerahkan kepada saya ini tidak ingin saya sia-siakan.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menurut saya....

The Trip

Adikku...