Jagung yang Tersesat
Pindah asrama sudah menjadi bagian dari kehidupan murid-murid di sini. Setiap semester berakhir, kami harus mulai mengepak barang dan siap pindah. Keluarga saya juga pindah. Dari asrama dua yang dikelilingi rumah staf dan asrama lain, pindah ke asrama 3 di seberang lapangan, dekat dengan kolam dan kebun. Meskipun jauh, asrama yang baru ini jauh lebih nyaman dan sunyi. Jadi Nela bisa tidur tanpa gangguan.
Bulan-bulan ini sedang musim jagung. Salah satu jemaat di gereja juga berjualan jagung karena dia punya kebun jagung. Karena baru menemukan menu sup jagung, saya semangat untuk buat sup jagung. Saya beli jagung dari ibu itu. Dia bilang kalau dia akan mengantar jagung itu hari berikutnya.
Namun
sampai siang, belum ada jagung yang diantar. Sehingga saya masak mie instan
untuk makan siang. Baru ketika Nela akan tidur siang, ibu itu datang. Dia
berkata bahwa dia sudah mengantar jagung itu tadi pagi. Tapi dia mengantarnya
ke asrama lama saya. Dan di asrama itu sudah ada keluarga lain. Pikiran saya
mulai nggak tenang karena ibu itu meletakkan jagung di dapur. Sudah menjadi
kebiasaan di sini kalau tiba-tiba ada makanan di depan pintu tanpa diketahui
siapa pemberinya, itu adalah berkat. Maka penerima bisa memakan atau mengolah
berkat itu.
Benar juga.
Ketika saya pergi ke rumah itu, jagung itu sudah ada di dalam panci. Saya
menjelaskan kepada teman saya bahwa ada ibu yang salah alamat. Dan tadi pagi,
ketika kami ada di kelas, dia buru-buru meletakkan jagung di dapur. Jadi saya
hanya akan mengambil setengah dari jumlah jagung itu. Namun ketika saya akan
mengambil jagung itu, dua anak teman saya bertanya ‘Diambil semua itu jagung?’.
Anak itu melihat bergantian ke arah jagung itu dan kepada saya. Seolah-olah
saya adalah monster yang akan mengambil makanan mereka. Lalu saya tersenyum dan
berkata, ‘Nyandak. Hanya ambil setengahnya saja. Jadi ngoni bisa makang ulang
ini jagung.’ Mereka berjingkrak-jingkrak senang dan kembali bermain.
Entah apa
rencana Tuhan, namun Ia membagi berkatnya sama rata kepada anak-anakNya. Mereka
yang sudah tiga bulan di sini, baru hari ini bisa makan jagung. Selain itu, kalau
tidak ada jagung yang tersesat, mungkin mereka tidak akan ada makanan hari ini.
Saya juga tidak menyalahkan ibu itu, karena dia memang tidak tau. Apalagi
peristiwa ini diubah menjadi berkat. Tidak perlu saya menyimpan jagung untuk
hari besok, karena saya belajar tentang berbagi. Suatu hal yang tidak akan
habis sampai besok atau kapanpun.

Komentar
Posting Komentar