Postingan

Menjadi Terdakwa

Gambar
23 April 2014 Aku menyodorkan senyum lebar dan wajah pasrah kepada bapak polisi yang menghadangku. Segera kubelokkan Brian (Nama motor yang kubawa) ke trotoar dan mengeluarkan STNK. “Lha mana SIMnya?!!” Aku membalasnya dengan senyuman getir dan menggeleng lemah. Lalu bapak itu mengeluarkan kertas dan berkata dengan sopan bahwa beliau akan menilangku. Dan resmilah aku menjadi seorang terdakwa.

Menjadi Seperti Mereka

Sabtu, 12 April 2014 Aku terperangah ketika dia menyebutkan usianya. 21 tahun, hampir sama dengan usiaku. Dia adalah seorang developer bidang teknologi, khususnya bidang teknologi digital dan Google. Saat ini dia berhasil mengerjakan proyek terbarunya yaitu Teknologi Google Glass. Sebuah teknologi yang benar-benar bisa membuatku berdecak kagum dan membuat mataku terpana. Aku memang buta teknologi dan hanya mengerti beberapa teknologi yang sering digunakan secara umum, tapi aku tahu kalau teknologi yang sedang dia kembangkan ini akan digunakan oleh beberapa orang kaya beberapa tahun lagi.             Dengan berapi-api dia menjelaskan bahwa teknologi ini membantu mengoptimalkan fungsi mata, dan dia memberi demo kecil kepada semua peserta seminar. Dalam hatipun aku kagum dengannya. Seorang yang masih muda tapi dia telah berkiprah di proyek-proyek Industri Digital Internasional, bahkan kiprahnya ini telah sampai di Perancis, Singa...

The Finish Line

Gambar
Happiness. Joyful. Sadness. Mourn. Hostility. We combined all of that feeling to prepare drama class performance. For a month we have to worked hard and be patient to faced our diversity. Just to performed for 35 minutes and desire to mesmerized the audience.

Menghargai Waktu

10.15 Tinggal seminggu lagi waktu pertunjukan kami dimulai. Waktu yang sangat singkat untuk membuat drama ini menjadi sempurna dan enak dilihat. Aku beserta lima orang kawanku menunggu di hall sambil mengerjakan tugas Semantic. Kurang tiga orang lagi yang belum terlihat sosoknya. Siang ini hall cukup ramai dipenuhi teman-teman yang berkumpul untuk mengerjakan tugas kelompok atau latihan drama. Ah, tugaskku bahkan belum kusentuh, terlalu banyak hal yang harus kulakukan dan banyak waktu kudedikasikan untuk drama ini, pikirku. 11.20 Aku pun mulai resah menunggu. Teman-teman yang lain juga mulai pamit pergi untuk membeli makan siang. Aku menghampiri Berta dan bertanya dimana teman-teman yang lain. “D baru bangun tidur, A katanya lagi nunggu D, kalau E aku ga tahu, nomernya ga bisa dihubungi.” Aku mulai marah. Kami sepakat untuk datang latihan jam 10, tapi setelah satu setengah jam berlalu mereka bahkan masih terbungkus rapat di dalam kamar mereka. Aku pun mengirim pesan kepa...
I'm getting tired now. When I spent more time outside with teaching. No time to stay in my room and reading a book or playing guitar or help my brothers do their homework. And I can't study others subject except doing my tasks. maybe this is happened because I can't arrange my time well. My schedule is not more than a note which hang nicely in my wall room.  or maybe I should be focus. Yes maybe.

Konsisten dengan Waktu

Hari ini, pada saat yang bersamaan, aku seharusnya datang ke sosialisasi bahasa isyarat, membantu Walitura membuat kerajinan tangan dan latihan teater, ikut kelas merajut (sebenarnya teman-teman Walitura tidak begitu membutuhkanku, tetapi aku tidak enak hati kalau tidak datang), membantu Jeee yang sedang sakit dan kumpul-kumpul dengan teman-teman SMA. Tetapi karena temanku datang ke gereja, aku membatalkan niatku datang ke sosialisasi dan serangkaian kegiatan yang menyertainya, karena aku tidak enak meninggalkannya. Dan untuk menutupi hal ini, aku mengatakan kepada temanku bahwa aku tidak bisa datang karena ada rapat. Ya Tuhan aku berbohong! Kejadian seperti sering terjadi berulang kali, dan aku sadar bahwa ada beberapa kebohongan yang kutimbulkan untuk mangkir dari kegiatan-kegiatan tersebut.  Seiring berjalannya waktu aku semakin mengenali diriku sendiri. Pengenalan yang harus dibarengi dengan rasa menerima. Menerima bahwa aku memiliki sifat buruk. Aku mengeri bahwa aku m...

Idealisme dan Ambisi

Aku tidak bisa membedakan mana yang merupakan ambisiku, obsesiku atau idealismeku. Semuanya hampir sama menurutku. Aku tidak bisa membedakan mana yang harus kuperjuangkan sehingga itu menjadi ambisi atau obsesiku dan mana yang seharusnya menjadi angan-anganku saja karena itu pasti tidak akan bisa terwujud. Ketika aku mendengar bahwa penelitian tentang bahasa isyarat tidak bisa menjadi sebuah judul skripsi, aku langsung teringat dengan semua mimpi dan ambisi yang pernah kubangun tetapi tidak ada satu pun yang terwujud. Aku pernah berambisi menjadi dokter (atau setidaknya bekerja di bidang kesehatan), namun tidak lolos seleksi masuk perguruan tinggi jurusan kedokteran. Sehingga sekarang hanya menjadi mimpiku saja. Saat ini pun aku tidak bisa membedakan apakah judul skripsi itu hanyalah sekedar angan-angan saja sebagai wujud dari idealismeku atau bisa terwujud dengan usaha yang keras dan obsesi yang besar. Karena sebagian besar orang di sekitarku sanksi dengan penelitian ini, ...