Postingan

Berjalan Beberapa Kilometer

Gambar
Aku berjalan beberapa kilometer Ke arah utara pulau Jawa Melewati jalanan memutar Berbatu, licin, dan panjang. Aku berjalan beberapa kilometer Dan melihat kupu-kupu yang bertengger Aku bertanya, “Bahagiakah menjadi dirimu?” Dia hanya diam sambil terus menyedot nektar Aku berjalan beberapa kilometer Dan melihat kaki seribu yang melintas Aku bertanya, “Tidakkah kamu takut terlindas?” Namun dia tetap berjalan tanpa tahu batas Aku masih berjalan beberapa kilometer Jalanan masih panjang namun aku terus berjalan Saat hujan turun, hati mulai gentar Harus seperti inikah? Kaki mulai lelah Keringat mulai menetes Dan jalanan telah sepi Namun aku tetap berjalan beberapa kilometer Untuk melihat air laut dan pasir Dengan harapan bisa menemukan jawaban Dan keputusan yang samar

Batasan

Kita itu tidak bebas. Kita terikat batasan-batasan. Tidak bisa menentukan dan tidak bisa benar-benar berdiri di atas persepsinya sendiri. Selalu ada persepsi yang mendahului dan kita harus mengikuti hal itu. Contoh sederhananya adalah bahasa. Tanpa kita sadari kita terikat dengan bahasa yang terlebih dahulu eksis daripada kita. Kita diatur untuk mengatakan bahwa sesuatu yang mempunyai empat kaki penyangga, bisa digunakan untuk meletakkan benda dan yang terbuat dari kayu adalah meja. Kita tidak bisa menyebut benda itu dengan kata yang lain. Teman saya, seorang berkebangsaan Chili, datang ke Salatiga untuk belajar bahasa Indonesia. Dia berusia 36 tahun. Dia mengatakan kepada saya bahwa sebelum dia datang ke sini, dia tidak mempunyai masalah dengan status lajangnya. Tetapi semenjak dia bertemu dengan orang-0rang yang selalu bertanya ‘sudah menikah belum’, hal ini membuatnya berpikir tentang pasangan hidup. Inilah batasan budaya yang masih mengukung orang-orang disekitar saya dan term...

Ilmu apa yang didapat?

Gambar
Teman saya membuat status yang sangat gusar akhir-akhir ini. Intinya tentang usianya yang sudah tidak muda lagi, waktunya yang singkat, ucapan selamat tinggal dan tentang hidupnya. Membaca statusnya itu, saya terdorong untuk mengirim pesan kepadanya. Dan bertanya tentang kabarnya sekarang ini. Tahulah saya bahwa dia memang sedang bergumul dengan pekerjaan. Di usianya yang menginjak 26 tahun ini dia ingin segera mendapatkan pekerjaan. Kebanyakan lowongan pekerjaan yang dibuka mempunyai batas maksimum bagi pelamar yang baru lulus. Sehingga semakin dia bertambah usia, maka akan sulit mendapatkan pekerjaan yang tetap. Yang mapan dengan ijazah sarjana katanya. Saya mafhum. Mendapatkan ijazah adalah suatu perjuangan keras selama empat tahun masa kuliah, tetapi mendapatkan pekerjaan setelah lulus adalah perjuangan yang  lebih keras. Kita akan diperhadapkan dengan dunia persaingan yang nyata dan luas. Orang-orang di sekitar saya sering bercerita bahwa tidak ada jaminan yang pasti ba...

Undang-Undang yang Tidak Berlaku

Gambar
Saya melihat wajah pias teman saya, Devi, ketika wanita itu mengatakan penolakan. Teman saya tidak bisa bekerja di pabrik itu. Memang dia tidak bisa mendengar, tetapi mimik dan ekspresi wanita itu telah mengatakan segalanya. Devi melihatnya. Dengan isyarat pelan, Devi mengajak saya keluar. “Ya mungkin undang-undang tidak berlaku disini.” Kata saya sambil tersenyum dan pergi meninggalkan ruangan itu. Saya berusaha memamparkan undang-undang no 3 tahun 1997 tentang penyandang cacat. Pada pasal 13 pun dituliskan “ Setiap penyandang cacat mempunyai kesamaan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatannya”. Tetapi semua itu hanya dibalas dengan “Saya sudah bilang dengan atasan dan mereka tidak bisa menerima. Karena pasti mandor akan mengalami kesulitan dalam mengajari.” Bahkan ketika saya mengutarakan bahwa saya juru bahasa dan teman saya tuli yang ingin melamar kerja, para pelamar yang lain ikut berbisik-bisik bahkan berkomentar ‘mana mungk...

Beda itu spesial

Gambar
Aku bertemu dengan seseorang yang sepakat bahwa pelajaran paling penting tidak bisa didapatkan di bangku pendidikan formal. ”Ya pelajaran hidup itu didapat dari pengalaman dan keterlibatanmu dalam masyarakat. Bangku sekolah hanya mengajarkan teori yang tidak berkesudahan.” Aku mengangguk bersemangat ketika ‘melihat’ percakapan kami. Melihat bukan mendengar. Karena dia memang tidak berbicara, hanya berisyarat dengan tangan. Berbicara dengan gerak tangan dan tubuh serta ekspresi wajah. Setelah itu banyak lagi pembicaraan mengenai bahasa isyarat dan bagaimana aku belajar bahasa isyarat. Pembicaraan yang begitu menyentuh hati.           Pelajaran lain kudapat dari desa kecil di Sleman, Yogyakarta bernama Sendangtirto, 19-21 Desember 2014. Desa yang akan mempelopori menjadi desa inklusi pertama di Yogya. Desa itu akan memberi akses fasilitas umum kepada orang-orang difabel sehingga mereka  bisa menikmati fasilitas umum seperti pendi...

Stasiun Kereta di Sore Hari

Gambar
Kamis, 27 November 2014 Entah hal apa yang mendorongku untuk datang ke stasiun kereta Tugu. Yang jelas aku benar-benar ingin mendatanginya, meskipun aku akan seperti pelarian disana. Aku terus memacu motorku mengikuti papan penunjuk jalan dan berputar-putar entah di jalan apa. Tapi tekadku tetap satu, mumpung aku masih di Jogja, aku harus datang ke Tugu. Sebelumnya, aku mengikuti acara kopdar relawan inklusi di Sendangtirto, jalan Wonosari, Sleman. Suatu tempat yang belum pernah kudatangi dan orang-orang yang hanya kukenal lewat dunia maya. Mereka akan mengadakan acara temu inklusi untuk memperingati Hari Disabilitas Sedunia, sehingga mereka membutuhkan banyak relawan untuk membantu acara mereka. Seorang teman, yang mungkin mengenalku melalui teman lain atau entahlah, menghubungiku untuk ikut dalam acara tersebut yang tanpa pikir panjang langsung kusetujui. Kegiatan sosial selalu menarikku untuk terjun di dalamnya. Acara kopdar itu tidak berlangsung lama. Pada jam 5 ac...

Jejak

Gambar
Saat air mata telah mengering Jejaknya terpatri dalam relung kulit Mengendap bersama perasaan pahit dan kecewa Terpenjara dalam perasaan sedih yang mampu ditanggung oleh hati tetapi menggoyahkan mata. Saat semua pengakuan itu telah terucap Kata-kata itu terukir di dalam hati Dan menjadi memori bahwa semuanya tidak akan sama.