Postingan

Feminis atau Bukan?

Gambar
Saya ingat ketika saya berdiskusi tentang feminisme dengan murid saya di kelas. Dia adalah murid yang kritis dan masih kuliah di suatu universitas negeri yang cukup terkenal. Meskipun waktu itu adalah pertemuan kedua, tetapi dia sudah mengajak berdiskusi tentang ideologi-ideologi yang dia mengerti. Sampai akhirnya, dia menemukan bahwa saya suka sekali mempelajari tentang feminisme. “Kalau kamu feminis, kenapa kamu mau menikah cepat?” begitu pertanyaannya. Aku hanya tersenyum. “Apakah feminisme itu hanya semata-mata menentang dominasi laki-laki?  Atau melakukan sesuatu yang wah seperti Friedan yang menulis buku lalu mempelopori berdirinya suatu organisasi wanita yang berdampak besar di Amerika Serikat?” Dengan tegas saya menjelaskan bahwa feminisme itu bukan melulu tentang perempuan yang selalu menentang laki-laki. Atau gambaran dari perempuan mandiri yang sudah tidak mau lagi diatur oleh tatanan sistem dan hanya ingin mendirikan aturannya sendiri. Tidak! Bagi saya, fe...

27 Oktober 2018

Gambar
  Pengalaman bermula dari batang pohon kepala kecil yang disulap jadi tangga oleh penduduk di desa itu. Tangan kananku memegangi sarung yang melilit tubuhku dan tangan kiriku memegang baju dan alat mandi. Dengan kaki telanjang, aku dan teman-temanku menuju ke sungai di belakang rumah yang kutumpangi. Sungai itu sudah seperti WC umum terbesar. Semua aktivitas belakang dilakukan di sungai. Mandi, mencuci, berak, kalau kencing masih bisa di belakang rumah (baca : di tempat cucian piring). Laki-laki, perempuan, tua, muda, dewasa, anak-anak, semua sudah terbiasa dan menjadikan sungai sebagai bagian dari kehidupan mereka. Para wanita tidak malu pergi ke sungai hanya memakai kemben atau sarung. Seringkali mereka juga ganti pakaian di tempat terbuka itu. Para lelaki juga tidak pernah merasa termotivasi untuk melakukan tindakan asusila ketika melihat pemandangan itu. Wanita-wanita tersebut juga tidak takut terciduk oleh ormas-ormas cerewet yang sibuk menentukan haram-halal, susila-asu...

Menjauhi Peradaban

Gambar
Aku melayangkan pandanganku ke belakang dan melihat jalanan berkelok yang sudah kami lewati. Jalanan ini naik turun bukit dan sempit. Tidak mungkin dilewati oleh dua kendaraan yang berpapasan. Hutan-hutan mengapit jalanan ini dan genangan air hujan menghiasinya juga. Kami sudah melewati jalanan kuning yang berdebu sebagian dan becek di bagian lain selama 1,5 jam. Namun belum ada tanda-tanda pemukiman di sana. Bahkan meskipun ada ladang-ladang hasil pembakaran hutan sudah terlihat, tampaknya perjalanan ini masih panjang. Tiba-tiba truk berhenti. Beberapa orang mengeluh panjang dan bergumam. Ini adalah tanda yang sudah kami hafal. Untuk kesekian kalinya kami yang menumpang di truk yang gagah itu harus turun. Menurunkan resiko ketika terguling, kata sopir truk yang berbadan kecil itu. Aku ikut meloncat turun dan mulai berjalan maju bersama rombongan orang-orang Dayak itu. Truk itu dengan mantap melewati jalan yang berlubang dan becek itu. Teriakan semangat dari beberapa orang m...

Berdiri Dalam Aliran yang Berbeda

Gambar
Sudah lama sekali aku tidak menulis random untuk mengisi blogku ini. Entah, blog ini marah atau ngadat, tapi perlu waktu untuk masuk ke akun ini. Membuktikan bahwa ‘tempat’ ini sudah bersarang laba-laba. Ada banyak yang berlalu dalam setahun ini. Ada yang yang sedih, senang, membuat sakit hati, bahkan ada hal yang menghempaskanku ke bawah. Namun pengalaman-pengalaman itu tetap mendewasakanku dengan cara tersendiri. Selalu ada saripati yang kuambil, meskipun dengan skeptis pula aku berusaha untuk mengkritiknya, berusaha memprotes hal-hal di luar nalar yang terjadi. Secara garis besar, aku merasa bahwa aku bukanlah aku yang dulu. Kita tidak pernah berdiri dalam aliran sungai yang sama kan? Tetapi aku yang sekarang bukanlah pribadi yang lain yang harus dikenali lagi. Aku hanya memandang segala sesuatu dengan lebih optimis dan terbuka. Contohnya saja, seorang kawan berkata bahwa dia sudah melupakan sebagian kenangan yang dia miliki dulu. Kenangan yang memuat unsur diriku, sedikit ...

Menurut saya....

Tidak pernah sedetikpun saya memandang rendah orang-orang yang berniat mengabdikan dirinya kepada Tuhan. Mereka yang mendarmakan waktu untuk melayani, mengambil beberapa tahun sekolah Theologia, dan melakukan segala sesuatu untuk membela imannya. Tidak pernah sekalipun!         Bahkan sebaliknya. Mereka adalah orang yang mengagumkan. Rela dengan sepenuh hati untuk melayani dan mempelajari tentang eksistensi Tuhan. Di semester ini, ketika saya bergulat dengan tiga mata kuliah Theologia dan menjadi salah satu dari mahasiswa Theologia, saya sadar bahwa pengabdian dan ketaatan adalah  hal yang sangat penting.         Pengalaman bertahun-tahun dalam pendidikan reguler dan bertemu dengan bermacam-macam orang, membuat saya menjadi seorang yang sangat terbuka. Saya sering bertemu dan berteman dengan orang-orang yang bertentangan dengan fenomena alkitab. Free sex, homoseksual, lesbian, rokok, tatto, tindik, bolos ku...

Pembenaran Sistem dan Manipulasinya

Pada tahun 2011, saya mengikuti ujian nasional untuk mengukur apakah saya pantas lulus dari SMA atau tidak. Tidak hanya saya dan murid-murid di sekolah tersebut yang sibuk belajar untuk mepersiapkan ujian tersebut, tetapi para guru juga ikut sibuk memberi nasehat yang sama kepada para muridnya. Sekolah saya memang sekolah negeri yang baik prestasinya di kota saya, sehingga para guru juga khawatir kalau ada muridnya yang tidak lulus. Tanpa diberitahu pun kami, para murid, ingin bisa lulus semua. Sehingga satu persatu dari kami mulai memikirkan bagaimana caranya agar bisa mencontek dari teman yang sama kode ujiannya. Tentu saja tidak semua murid menginginkan cara seperti itu, sebagian dari kami jujur dan mengerjakan dengan kemampuan sendiri. Lalu seorang guru bimbingan konseling masuk ke kelas kami dan mengatakan segala nasehat tentang ujian nasional. Tetapi satu hal yang membuat saya tercengang adalah dia menyuruh kami untuk saling memberi contekan, padahal notabenenya dia juga menga...

Jejak yang Tertinggal

Gambar
Saya memandangi landasan pesawat itu dari teras rumah panggung di mana saya tinggal. Setiap kali saya memandang jauh, saya selalu melihat pemandangan luas yang tidak terbatas. Gunung-gunung yang menjulang, pohon-pohon yang hijau, langit yang terbuka dan tanah yang luas. Seakan mata saya tidak mampu menampung semua pemandangan ini.         Dari atas anak-anak yang berseragam berjalan turun ke sekolah. Mereka menggendong noken dan memanggul kayu bakar.         “Lapmum,” teriakku kepada mereka. Mereka selalu membalas dengan sapaan yang sama. Ingin sekali saya mengikuti mereka ke sekolah dan melihat bagaimana mereka belajar. Tetapi ini hari terakhir kami di Tarub. Diperkirakan pesawat akan datang menjemput kami jam 9, sehingga tidak ada waktu untuk pergi ke tempat lain.         Jalanan yang saya lalui, orang-orang yang saya temui, dan pengalaman yang saya terima sangat membek...