Postingan

Dikhianati oleh Ekspektasi

Gambar
Selama hampir satu bulan sejak Nela lahir, perasaan saya jadi tidak menentu. Sering menangis setiap sore, sering merasa kesepian, mudah marah dan tersinggung. Merasa selalu ingin ditemani tetapi Deni juga sibuk dengan kegiatan sekolah dan kerja. Ditambah lagi ada rasa tidak mampu mengungkapkan apa yang ada di dalam hati. Ketika menangis, saya selalu merasa lemah, tidak mampu, helpless dan merasa bersalah. Kenapa saya harus seperti ini? Bukankah menanti Nela lahir ini adalah keinginan saya? Bukankah sejak lama saya terus membayangkan betapa menyenangkannya merawat bayi. Waktu saya hamil, ada beberapa ibu yang bertanya apakah nanti ada keluarga yang datang sewaktu saya melahirkan. Tentu saja tidak ada. Jawa Tengah dan Sulawesi Utara cukup jauh bagi keluarga saya. Apalagi dengan ongkos perjalanan yang sangat mahal tidak memungkinkan mereka untuk datang. Ibu-ibu itu hanya mengangguk dan berkata bahwa ada banyak ibu di sini yang akan membantu. Dalam hati juga ada pikiran yang som...

Sedikit Cerita

Gambar
Saya sangat marah ketika hari Rabu malam, tanggal 20 Februari 2019, bidan di klinik menyuruh kami pulang. Dia bilang bahwa kontraksi masih lama dan bayi tidak akan keluar dalam 24 jam. Sambil menahan rasa sakit, saya mendahului masuk ke mobil. Sebagai pendatang di kota ini, saya tidak banyak mengetahui rumah sakit mana atau klinik mana yang menerima ibu-yang-sudah-merasa-sakit-meskipun-pembukaan-masih-sedikit. Tapi saya teringat cerita teman saya yang pernah tinggal di Inggris dan melahirkan anak keduanya. Dia harus menunggu di rumah sampai dia benar-benar tidak tahan dan kesakitan. Dia sendiri juga yang harus menelepon pihak rumah sakit untuk bertanya apakah sudah boleh ke rumah sakit. Pihak rumah sakit akan bertanya tentang kontraksi dan menilai dari suara ibu sehingga bisa memutuskan apakah sudah saatnya untuk pergi ke rumah sakit. Menurut pengalamannya, ibu yang sudah mengalami pembukaan lebar akan kesulitan berbicara. Jadi itulah kenapa ibu hamil itu sendiri yang harus menel...

Rumah Baru

Gambar
Mimpi saya masih sering pulang pergi, berada di setting tempat yang berbeda-beda. Kadang-kadang berada di rumah dimana saya tumbuh waktu kecil. Sering juga berada di rumah orang tua saya di Salatiga. Bahkan sesekali ada di rumah baru saya di Manado, bukan, lebih tepatnya di pinggiran kota Manado. Pernah suatu kali saya bermimpi, yaitu ibu saya, tante saya yang menggendong adik bayi saya datang ke rumah di Manado. Mereka naik motor! Saya sangat terkejut melihat mereka ada di depan pintu dan segera meminta mereka istirahat. Tidak percaya karena mereka melintasi trans Sulawesi dari ujung selatan ke ujung utara. Namun untung saja itu hanya mimpi. Manifestasi dari kerinduan saya kepada ibu saya dan kebiasaan ibu saya naik motor kemana-mana. Namun yang jelas, banyak sekali mimpi yang datang tentang keluarga saya beberapa hari terakhir ini. Satu per satu anggota keluarga kesayangan saya muncul dalam mimpi saya. Lalu membuat saya bingung ketika bangun, karena saya selalu bertanya ‘di man...

Gapapa Kalau Gapapa

Saya dan Deni baru menikah empat bulan ketika saya tahu bahwa saya hamil. Saya masih ingat wajah Deni yang penuh dengan sennyuman dan berseri-seri ketika membuka hadiah yang berisi Pregnancy test. Dia terus berkata ‘aku akan menjadi ayah! Aku akan menjadi ayah!’. Sebenarnya kami ingin memiliki anak setelah satu tahun menikah, namun kejutan di bulan ke-empat ini tetap membuat kami bahagia. Apakah yang lebih diinginkan dari pasangan yang baru menikah selain anak? Anak adalah kunci utama dalam budaya saya untuk menentukan bahwa sebuah pasangan baru itu berhasil. Hal ini juga kami alami ketika banyak teman bertanya apakah saya sudah ‘isi’. Tapi dengan sabar kami menjawab bahwa belum waktunya. Bagi kami, merencanakan untuk mempunyai anak itu penting sekali. Kami ingin mendidik anak-anak kami sesuai dengan kebenaran firman Tuhan sehingga kami ingin mempersiapkan diri kami sebagai orang tua. Selain itu, kami ingin pergi ke training misi di pulau yang berbeda dengan kampung halaman kami. Jad...

10 April 2018

Gambar
Kenapa Tuhan memberi kalau hanya ingin mengambilnya lagi dalam waktu sesaat? Pertanyaan itu terus muncul dalam kepalaku. Berulang-ulang. Namun tidak menemukan jawaban yang tepat. Begitu indahnya kebahagiaan saat memiliki. Perasaan senang itu nyata dan seakan bisa disentuh. Bisa dirasakan tumbuh di dalam diri. Lalu air mata bahagia muncul. Kenapa kita menangis saat bahagia? Gaarder menjelaskan bahwa kita semua sadar kalau kebahagiaan itu hanya sesaat saja, lalu lenyap. Sehingga kita menangisinya karena kita tahu bahwa kebahagiaan itu tidak akan muncul lagi. Lalu kebahagiaan itu tergeser dengan mudahnya oleh rasa kehilangan. Bahagia yang tumbuh di dalam diri lenyap seketika. Keluar bersama nada-nada penyesalan. Semuanya terjadi cepat sekali, seolah-olah semuanya hanya mimpi. Yang manakah mimpi? Apakah kebahagiaan itu mimpi? Atau rasa kehilangan itu mimpi? Atau jangan-jangan aku hanya bermimpi pernah memilikinya? Kenapa kita menangis juga waktu sedih? Karena kita tahu bah...

Bali, Desember 2017

Gambar
Aku dan Deni menghabiskan beberapa hari di Bali setelah pernikahan kami. Ini adalah pengalaman pertamaku di pulau paling terkenal di Indonesia ini. Sehingga aku semangat dan ingin sekali melihat hal-hal baru di sana. Secara keseluruhan, aku dan Deni menikmati waktu kami di Bali, meskipun dia juga sibuk dengan pelayanan Natal di sana. Tidak banyak tempat yang bisa dikunjungi karena dia sibuk sekali, tapi aku senang karena hotel tempat kami menginap cukup bagus. Ada televisi yang menemaniku untuk menghabiskan waktu. Kami menyempatkan waktu untuk berjalan ke pasar di pagi hari atau pergi ke pantai.  Satu hal yang membuatku heran tentang Bali adalah aku bisa   menemukan satu daerah yang tidak seperti Indonesia. Toko-toko, orang-orang dan suasana yang sangat modern. Namun di sisi lain,  aku juga menemukan suatu tradisi yang terselip di tengah budaya asing yang modern, yaitu tradisi memberi. Kita bisa menemukan tempat persembahan di ma...

Lombok Selatan, 15-16 Desember 2017

Gambar
Menurutku ini adalah hutang yang terbayarkan di tahun 2017, Karena ada banyak hal suram yang terjadi di tahun 2017. Hal-hal yang sering membuatku ingin menyerah dan berhenti berjalan. I’ve been here, in South Lombok, at Pantai Tanjung An, the most beautiful beach I’ve ever seen. We checked out from the guest house on the second day and walked all the way to somewhere for almost 1 hour. After we found a small store which sell food, believed as a cheap store, we decided to stop for a while and ate brunch there. That wasn’t a fancy place, but a very traditional place. No problem, we could enjoy that and finished our meal. We also tried to ask some information about how to go to a traditional tourism village, 20 km from that place. Something that I knew was they tried to help us but also wanted to get some profit from us. We realized that maybe we couldn’t afford the cost they mentioned. So, we just sat under a traditional hut named Rumah Sasak. I don’t know, we...